Selasa, 27 Juli 2010

Mengajar; Seni Berkomunikasi
Oleh: Nanan Abdul Manan, S.Pd. *)

Teaching is the art of communication. One can involve in different and strange atmosphere in the first and feel comfort with the sameness of community in the next. It’s a successful case of one in associating.


Prawacana
Mengajar merupakan sebuah aktifitas yang tidak terelakkan bagi individu di muka bumi ini. Kata mengajar dan belajar merupakan satu kesatuan yang akrab tak terpisahkan. Karena keduanya berada pada lokus yang sama ketika satu diantaranya melakukan peran. Peran dominan diantara keduanya dapat berjalan sepihak maupun bergantian bahkan seimbang. Lebih lanjut, dipahami bahwa seorang guru atau dosen secara otomatis akan menjadi aktor sebagai pengajar (melakukan aktifitas mengajar) sementara murid atau mahasiswa sebagai aktor pemelajar (melakukan belajar atau yang diajar). Dua aktor itulah yang telah menciptakan pengajar/pendidik/guru dan murid/mahasiswa/peserta didik/pelajar.

Mengajar adalah seni
Bila dilihat pada prosesnya, mengajar yang berasal dari kata ajar memiliki makna sebuah aktifitas memberi pengetahuan atau memberi informasi dari pihak satu kepada pihak lain. Pengajar akan memberikan apa yang dia miliki kepada peserta didiknya. Melakukan pengajaran berarti melakukan sebuah komunikasi dua arah, yakni antara guru dan murid atau dosen dan mahasiswa. Dari komunikasi itulah muncul sebuah seni. Seni yang dimaksud pada proses ini adalah seni berkomunikasi. Seorang pengajar yang baik tidak seyogiayanya hanya mampu berbicara sementara audien didiamkan tanpa memberikan respon terhadap apa yang dibicarakannya. Akan tetapi, pengajar harus melakukan komunikasi yang memunculkan dua pihak berperan aktif dan bertanggungjawab dalam menciptakan adegan kelas menjadi menarik.
Komunikasi merupakan kunci utama dalam menciptakan suasana kelas menarik. Apakah kelas akan dibawa menuju orchestra atmosphere, play group, silent milieu, monotonous place, frightening situation, dan lain sebagainya. Semua penciptaan situasi kelas akan ditentukan oleh pengajar sebagai pemeran utamanya. Sebagai pemeran utama, pengajar dapat membentuk pemeran-pemeran lainnya dalam menjalankan cerita di kelas agar menakjubkan bagi semua pihak. Kesuksesan kegiatan di kelas akan sangat bergantung pada pengajar. Dan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh pengajar adalah ‘komunikasi’. Komunikasi merupakan seni utama dalam penciptaan suasana belajar menggairahkan.
Aspek komunikasi adalah kompetensi diri pengajar yang mampu melakukan transfer pengetahuannya. Kemampuan berkomunikasi pada diri pengajar dapat diindikasikan dengan terjadinya respon antusias dari para peserta didik baik sedang maupun setelah proses pembelajaran. Kemampuan berkomunikasi juga dapat dilihat melalui kemampuan pengajar dalam mengenal karakter-karakter yang bervariasi di kelas, memadukannya menjadi sebuah aset berharga dalam proses pengajaran, dan menjadikannya instrumen dalam pencapaian tujuan pengajaran. Penguasaan karakter yang heterogen menjadi ukuran sejauh mana pengajar tersebut expert atau tidak.
Pola komunikasi atraktif dalam proses pengajaran dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Berikut dijelaskan melalui peta sederhana berikut;






Pada peta di atas dijelaskan bahwa pola komunikasi yang dilakukan oleh peserta didik berada pada posisi dua arah. Keduanya saling memengaruhi. Pengajar memberikan informasi pengetahuan; menerjemahkan dengan pemahamannya dan menyampaikan kepada peserta didik. Sebaliknya, peserta didik akan merespon terhadap tindakan pengajar dengan cara atau persepsi yang berbeda-beda. Respon peserta didik bisa saja acuh, tidak peduli, biasa-biasa, antusias, penasaran. Respon tersebut harus segera didiagnosa dan diolah, sebagai bekal pada pengajaran lanjutan.
Teacher’s activities Students’ responses








Dari peta di atas dijabarkan bahwa semua kegiatan pengajar/guru akan direspon dengan berbagai variasi tanggapan. Tugas seorang pengajar adalah menanggapinya kembali, melakukan improvisasi dalam pemberian umpan balik kepada peserta didik. Tanggapan yang kurang nyaman dari peserta didik tidak lantas ditanggapi negatif oleh seorang pengajar, akan tetapi akan lebih elegan apabila pengajar itu sendiri yang berkreasi dalam penggunaan teknik-teknik pembelajaran yang lebih tepat.
Respon yang diberikan peserta didik merupakan pelajaran berharga bagi pengajar sejauh mana dia dapat berimprovisasi, berkomunikasi, dan berinteraksi maksimal dengan penuh penghayatan. Penghayatan dalam pengajaran di sini dimaknai sebagai sebuah sikap pengajar dalam proses pengajaran dengan senantiasa menemukan makna (meaningful) yang akan memberikan manfaat bagi dirinya dan peserta didik. Semakin sadar akan keragaman karakter kelas dihadapi oleh pengajar maka semakin enjoy pula pengajar merasa untuk menemukan teka-teki kesulitan dalam penguasaan kelas itu sendiri. Di sinilah kepiawaian seorang guru dalam berkomunikasi. Semuanya berlandaskan pada pola komunikasi.

Performa Pengajar; sebuah hal krusial
Disadari sebagai pemeran utama, seorang pengajar jelas menjadi public figure bagi peserta didiknya. Apapun yang ia lakukan adalah pilot project bagi kelas. Secara alamiah, hegemoni pengajar terhadap peserta didiknya akan lebih mudah pada aspek penampilan atau kinerja (performa). Performa yang diberikan pengajar akan langsung disaksikan peserta didik dan sesegera mungkin akan muncul respon. Performansi ini merupakan bagian dari komunikasi integral antara aspek factive dan emotive.
Factive dipahami sebagai penggunaan bahasa dilihat pasa cognitive aspect, sementara emotive lebih kepada affective atau attitudinal (Oller, 1979:17). Factive, dalam hal ini berkaitan dengan pola komunikasi, dapat dipahami berdasarkan kemampuan seorang pengajar dalam memadukan dan mengungkapkan kata-kata, frase, kalimat hingga membentuk sebuah pemahaman yang baik bagi peserta didik. Sedangkan, emotive merupakan pola komunikasi yang berdasarkan pada facial expression aspect (aspek ungkapan wajah), tone of voice (irama suara), dan gesture (gerak tubuh). Keduanya, baik factive maupun emotive, harus dikuasai oleh seorang pengajar. Tujuan utama dalam pengajaran adalah memberikan perubahan sikap, piranti untuk perubahan tersebut ada pada komunikasi, bila aspek komunikasi pengajar terhambat maka otomatis tujuan pengajaran tidak akan tercapai. Peserta didik akan menyelesaikan proses pembelajaran mereka tanpa mendapat kesan sensual yang exciting.
Performansi pengajar akan diindikasikan dengan berbagai tindakan, dari mulai cara berpakaian, tindak tutur (speech act) yang akademik, melakukan kontak mata yang responsip, melakukan pola mendekat (proximite) dan menjauh (far-distance) yang atraktif kepada peserta didik, dan selalu menciptakan suasana hangat di kelas tanpa melepaskan aturan dan etika pengajaran. Pada performansi ini dipahami sebagai seni persuasif terhadap publik. Semua yang dilakukan, baik aspek factive maupun emotive, merupakan pola komunikasi yang seyogiayanya dilakukan oleh pengajar. Sedikit disadari, bahwa apa yang kita kenakan, warna pakaian yang dipakai, gaya rambut yang kita miliki, cara berjalan mengelilingi kelas, melakukan pilihan kata dalam setiap penjelasan materi, lirikan mata, gerak tangan ketika berbicara, gerak tubuh (memutar, berbalik, membelakangi, menghadap), menuliskan huruf-huruf di papan tulis, gaya tulisan, semuanya menjadi identitas pengajar yang akan dinilai oleh peserta didik. Kata kunci dalam hal ini, pengajar adalah model bagi peserta didiknya.

Tawaran untuk Praktis
Seberapa banyak pendekatan, metode, teknik, gaya, strategi dalam pengajaran yang kita miliki tidak akan bermakna sama sekali tanpa diiringi dengan tindakan. Praktek merupakan hal yang penting. Memulai praktek itu merupakan hal yang lebih penting, dan keberanian untuk memulai adalah hal yang sangat penting. Oleh karena itu, pengajar harus memerhatikan tahapan-tahapan aktifitas di kelas sebelum memulainya. Pengajar senantiasa tampil sebagai perfectionist figure bagi peserta didiknya namun tidak berarti memaksa kepada kelas untuk mengakui demikian. Imej perfectionist figure akan muncul secara natural bila pelayanan pengajar di kelas memuaskan. Pengakuanpun akan diberikan tanpa harus diminta.
Berikut merupakan tahapan yang dapat dilakukan oleh pengajar dalam pengajaran; sebelum-sedang-sesudah. Pertama, seorang guru hendaknya memiliki motivasi diri (sehingga mampu memberi motivasi kepada kelas). Tanpa diawali dengan memotivasi dirinya, seorang guru akan mendapatkan kesulitan ketika berhadapan dengan siwa, guru akan kaku, tidak mampu beradaptasi segera dalam lingkungan kelas. Maka guru di sini disebut sebagai motivator. Kedua, seorang guru hendaknya menguasai materi. Ia adalah master pada mata pelajaran yang diajarkannya.Ketiga, seorang guru hendaknya mampu melakukan kesepakatan untuk membuat aturan kelas; menjelaskan tujuan, manfaat dan prospek pengajaran-compromizer. Keempat, seorang guru hendaknya bersikap hangat, ramah, murah senyum dan dekat dengan peserta didik tanpa mengabaikan aturan-friendly actor. Kelima, seorang guru hendaknya mengenali karakter kelas sebelum memulai melalui pertanyaan-pertanyaan singkat kepada setiap peserta didik-observer. Keenam, seorang guru hendaknya merespon ide-ide mereka dalam proses pengajaran-appreciator. Ketujuh, seorang guru hendaknya melakukan kontak sensual yang cermat-comprehensive communicator. Kedelapan, memberi penghargaan bagi mereka yang lebih apresiatif dan memotivasi-sportive actor.
Dari delapan langkah ini dapat diterjemahkan secara sederhana melalui skema berikut;

Dari gambaran di atas dapat dipahami bahwa delapan aspek yang ditempuh pengajar dalam menciptkan kelas dinamis, atraktif, dan tidak membosankan. Tidak mungkin semua itu dapat dilaksanakan tanpa ada keberanian. Demikianlah seni dalam mengajar. Semoga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar