Sabtu, 22 Mei 2010

Ungkapan-ungkapan Deiksis



1. JENIS-JENIS DEIKSIS
Seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa beberapa jenis ungkapan bahasa alamiah sangat tergantung pada konteks yang sesuai dengan interpretasi ungkapan tersebut. Seperti contoh, beberapa jenis ungkapan-acuan yang telah dibahas pada bab 7 memerlukan kesimpulan acuan kontekstual. Lebih dari itu, penggolongan sederhana sebuah kalimat merupakan dependen-situasi inheren. Salah satu contoh dependen-konteks adalah deiksis. Dalam kalimat berikut (1), kita menemukan ‘I’, ‘it’, dan ‘him’ merupakan ungkapan-ungkapan yang mengacu pada orang dan benda yang dijelaskannya.
(1) I gave it to him
Informasi tentang siapa dan apa yang mereka (kata-kata) acu hanya dapat dijelaskan melalui konteks ujaran daripada pemahaman kalimat itu sendiri. Ungkapan-ungkapan terikat secara tekstual seperti di atas disebut deiksis. Deiksis berasal dari bahasa Yunani kuno είṿủµ, yang bermakna ‘menunjukkan’, ‘merujuk pada’. Deiksis merupakan penomena pengkodean informasi tekstual melalui pemahaman pada bagian-bagian leksikal atau pembedaan gramatikal yang memberikan makna ketika konteks ini menyatu. Dengan kata lain, deiksis bermakna informasi tekstual secara gramatikal maupun leksikal. Seperti contoh pada kata ‘he’, ‘here’, ‘now’ merupakan ungkapan-ungkapan deiksis. Semua kata-kata tersebut memberikan penunjuk pada konteks yang dapat diteliti terkait makna ujaran.
Tense juga termasuk pada ranah deiksis. Dalam contoh (2) arti kata ‘then’ hanya dapat dijelaskan dengan situasi kalimat itu.
(2) I gave it to him then.
Levinson (1983:55) memberikan contoh berikut untuk mengilustrasikan betapa pentingnya informasi deiksis itu. Anggaplah bahwa anda menemukan sebuah botol di laut dengan pesan di dalamnya. Perhatikan contoh (3).
(3) Meet me here a week from now with a stick about this big
Pesan ini tidak memiliki latar belakang kontekstual sehingga sangat tidak informatif.
Ungkapan-ungkapan deiksis juga kadang-kadang disebut indeksikal atau ungkapan indeksikal tetapi beberapa ahli mendefinisikan istilah “indeksikal” dibatasi hanya pada kata ganti ‘I’ dan ‘You’ dan keterangan ‘here’ dan ‘now’ karena aturan tersebut sudah tetap pada kalimat. (Larson and segal 1995:215). Semantik berdasarkan daftar kata-kata akan dibahas pada bab 3. istilah lain juga yang digunakan oleh para ahli adalah demonstarative (kata penunjuk) atau ungkapan-ungkapan penunjuk (demonstrative expressions). Istilah ini menjelaskan beberapa istilah yang cukup sulit dalam bahasan ini. Penggunakan istilah ‘demonstrative’ atau ‘kata penunjuk’ yang tepat yaitu pada ungkapan yang menunjukkan suatu suatu tindakan nyata yang asosiatif, seperti halnya ‘that’ atau ‘this man’ yang menunjukkan penunjukkan. Bagaimanapun juga, karena penggunaan bersama dan tanpa penunjukkan dapat dijelaskan melalui pendekatan teori yang sama, ungkapan-ungkapan seperti ‘I’, ‘here’, ‘now’, semuanya dijelaskan pada bahasan ‘demonstrative’ (lih Kaplan 1989:276-277). Beberapa ahli memaknai indeksikal dengan banyak varian dan membedakannya dengan indeksikal dan ‘pure’ dan ‘demonstrative’. Menurut Kaplan, baik indeksikal pure dan demonstrative mengacu pada teks langsung, acuan pada indeksikal demonstrative dapat dijelaskan melalui suatu tindakan dalam bentuk demonstrasi.
Karena ungkapan deiksis hanya terfokus pada makna yang diinterpretasikan oleh pendengar, maka deiksis berada pada ranah pargmatis. Bagaimanapun juga, pemahaman makna perlu diketahui sesuai dengan keadaan (pragmatis), dan pada hal lain dapat juga dilihat dari sudut makna semantik. Dengan kata lain, terkait dengan ungkapan-ungkapan deiksis, proses penemuan makna pragmatis akan berpadu pada makna semantik. Secara umum, kita dapat mengatakan bahwa ungkapan deiksis adalah tempat, penentu-tempat pada ungkapan-ungkapan yang mengacu, yang disesuaikan dengan konteks yaitu; situasi, penjelasan kalimat sebelumnya, penunjukan atau referensi dan lain sebagainya. Sehingga, dalam analisis kalimat semantik dan ungkapan deiksis, kita harus memahami keberadaan kalimat yang dijelaskan sesuai dengan kondisi realita sebelum kita mengetahui maksud kalimat itu sendiri.
Deiksis menggunakan setting pembicara sebagai acuannya. Perbedaan here/there, this/that, these/those pada dasarnya juga mengacu pada kedekatan (proximity) pembicara, yang hal ini amat fleksibel dan tergantung konteks. Beberapa bahasa membedakan ruang secara berbeda, misalnya bahasa Spanyol memiliki tiga pembedaan seperti pada contoh (4).
(4) esto (this) – eso (that) – aquello (that over there)
Beberapa bahasa memililiki kompleksitas terkait kata ganti penunjuk (demonstrative pronoun). Ada pula kata kerja deiksis. Seperti contoh, ’come’ yang menunjukkan sebuah aktifitas terhadap pembicara. Beberapa bahasa, seperti bahasa Somalia memiliki morfem-morpem mosi deiksis yang menandakan ’towards the speaker’ (menunjuk pada pembicara) dan ’away from the speaker’ (diluar pembicara) (Saeed 1997:176). Perbedaan antar linguistik ini menunjukkan bahwa informasi semantik yang berbeda berada pada ranah gramatikal atau leksikal dalam bahasa yang berbeda pula. Deiksil spasial juga sering berkembang menjadi ranah temporal: ’here’ (disini), ’there’ (disana) dapat bermakna ’at this/that point of discourse’ (pada poin bahasan ini/itu); ‘this’ dan ‘that’ dapat menjelaskan secara khusus tentang waktu; tahun, minggu dan lain sebagainya. Penggunaan kata kerja ’go’ untuk mengacu waktu masa datang dapat digunakan dengan ’I am going to....’ adalah salah satu contoh dari beberapa fenomena perspektif bahasa.
Deiksis perorangan ditunjukkan dalam pronoun.
Deiksis dapat dikelompokan sebagai berikut :
(i) Deiksis perorangan (person deixis); menunjuk peran dari partisipan dalam peristiwa percakapan misalnya pembicara, yang dibicarakan, dan entitas yang lain.
(ii) Deiksis tempat (place deixis); menunjuk pada lokasi, dalam bahasa Inggris ada kata keterangan tempat here dan there.
(iii) Deiksis waktu (time deixis); menunjuk pada satuan tempo yang ada dalam ujaran. Disini kita membedakan coding time (waktu ujaran) dan receiving time (waktu dimana informasi diterima oleh audien). Penunjuk kala dan kata keterangan waktu (now, tomorow, next year) masuk dalam kategori ini.
Meski kontroversial, lebih jauh jenis deiksis dapat ditambahkan :
(iv) Deiksis wacana (discourse deixis); yang menunjuk pada bagian dari wacana seperti contoh pada kalimat (5).
(5) I am hungry, that is what I said.
5. Deiksis sosial (social deixis); yang menunjuk pada hubungan sosial atau perbedaan-perbedaan sosial. Contoh; sampean dan jenengan.
Mari kita bahas lima kategori deiksis lebih jelas. Deiksis perorangan menjelaskan subjektifitas eradicable ke dalam struktur semantik bahasa alamiah (Lyons 1977:646). Deiksis perorangan menunjukan subjektivitas dalam struktur semantik. Deiksis perorangan hanya dapat ditangkap jika kita memahami peran dari pembicara, sumber ujaran, penerima, target ujaran, dan pendengar yang bukan dituju atau ditarget. Dengan demikian kita dapat mengganti kata ganti dan kata sifat pada contoh (6) dengan contoh (7) atau (8) dalam proses ujaran.
(6) “give me your hand”
(7) “give him your hand”
(8) “I give him my hand”
Berikutnya, penting kiranya melihat jumlah jamak yang berbeda maknanya ketika kita terapkan pada orang pertama dan orang ketiga. Pada orang pertama, bukan berarti multiplikasi dari pembicara. Juga, “we” dapat menjadi inklusif atau eksklusif dari yang ditunjuk. Sistem kata ganti berbeda dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain karena ragam perbedaan ditambahkan seperti jumlah dua, jenis kelamin, status sosial, dan jarak sosial. Lebih-lebih, istilah keturunan juga menunjuk pada deiksis. Misalnya, dalam bahasa Aborigin Australia ada istilah yang digunakan untuk seseorang yang merupakan bapak pembicara dan merupakan kakek pembicara. Bapak pembicara yang bukan kakek pembicara akan ditunjukan dengan istilah yang lain.
Deiksis waktu juga ditujukan pada partisipan dalam wacana. “Now” berarti waktu dimana pembicara sedang menghasilkan ujaran. Waktu pengujaran berbeda dari waktu penerimaan, meskipun dalam prakteknya peristiwa berbicara dan menerima memungkinkan berdekatan atau kotemporal. Pusat deiksis dapat ditujukan pada yang dibicarakan sebagaimana yang didiskusikan dalam contoh (9). “Now” mengacu pada waktu dimana yang dibicarakan mempelajari kebenaran, yang diikuti dengan waktu dimana pengarang mengungkapkan pesan.
(9) “You know the truth now. I knew it a week ago, so I wrote this letter”.
Hal menarik yang lain untuk diperhatikan adalah istilah “ today, tomorrow, yesterday” apakah mengacu pada hari keseluruhan atau pada saat tertentu, sebuah episode pada hari itu, seperti pada contoh (10) dan (11) berikut:
(10) “Yesterday was Sunday”.
(11) “I fell off my bike yesterday”.
Jumlah hari secara deiksis juga berbeda dari bahasa satu ke bahasa yang lain: bahasa Jepang memiliki tiga hari ke belakang dari “today” dan dua hari ke depan.
Waktu adalah paling mempengaruhi kalimat menjadi deiksis. Penting kiranya untuk membedakan antara gramatical tenses dan semantic temporallity. Misalnya, kalimat (12) dan (13) adalah non deiksis dan atemporal, meskipun kalimat tersebut memiliki nilai gramatikal.
(12) “A whale is a mammal”.
(13) “Cats like warmth”.
Dalam penelitian semantik tentang temporality atau ‘metalinguistic tense’ yang digali dari logika kala, terdapat perbedaan yang tegas antara (i) past, present dan future, (ii) prioritas relatif dari dua peristiwa dimasa lampau, dan juga antara (iii) hal-hal dalam waktu yang berlawanan dalam rentang waktu. Perbedaan-perbedaan ini tidak secara langsung masuk dalam tenses gramatikal karena tenses gramatikal ini juga mencakup aspect dan modality. Tenses gramatikal juga mencerminkan ketergantungan budaya dalam melihat waktu dan membaginya seperti afiks dalam bahasa Amahuaka yang diucapkan di Peru dimana rentang waktu mempengaruhi rentang sekarang separti halnya “ the morning” atau “the afternoon” tidak harus sebelum malam. Maka meskipun bahasa orang tenses gramatikal, bahasa tersebut tetap memiliki ungkapan temporallity.
Deiksis tempat menunjukan lokasi relatif bagi pembicara dan yang dibicarakan seperti pada “ten metres further”, ‘ten miles east of here’, ‘here’, there’. Misalnya kita dapat mendefinisikan here sebagai unit ruang yang mencakup lokasi pembicara pada saat dia berujar atau lokasi terdekat pada lokasi pembicara pada saat berujar yang mencakup tempat yang ditunjuk jika ketika berkata here diikuti gerakan tangan. Ukuran dari lokasi juga berbeda-beda, yang di pengaruhi oleh pengetahuan latar belakang. Here dapat berarti kota ini, ruangan ini, atau titik tertentu secara pasti. Dalam hal kata ganti this dan that, pilihan juga dapat didiktekan berdasarkan kedekatan emosional (empathy) dan jarak. Hal ini sering disebut deiksis empathetik. Dalam beberapa budaya, kata ganti demonstratif ini dapat dibedakan lebih berdasarkan prinsip-prinsip daripada jarak pembicara, seperti (i) dekat pada yang dibicarakan, (ii) dekat pada audien, (iii) dekat pada orang yang tidak ikut peristiwa (iv) berdasarkan pada arah-above-below, atau bahkan (v) kalihatan tidak kelihatan pada pembicara atau (vi) upriver- downriver dari pembicara, tergantung pada sistem dalam mengkonseptualisasi ruangan yang digunakan dalam bahasa tertentu. Deiksis tempat juga dapat menggunakan untuk waktu misalnya dalam contoh (14).
(14) I live ten minutes from here.
Deiksis tempat lebih dulu ada dari deiksis waktu: lokasi dikhususkan kepada waktu ujaran.
Tidak selalu mudah untuk memutuskan apakah penggunaan sebuah unngkapan itu deiksis atau non deiksis misalnya pada contoh (15). Pohon dapat berada di belakang mobil atau tertutup pandangan karena terhalang oleh mobil
(15) The tree is behind the car.
Seperti halnya pada contoh (16), anak laki-laki bisa berada di sisi kiri Tom atau di kiri Tom dari sudut acuan pembicara.
(16) The boy is to the left of Tom
Wacana deiksis bukan termasuk salah satu kategori dasar deiksis. Makna-makna pribahasa ini dapat kita lihat pada bagian wacana, seperti terlihat pada ‘pada paragraph terakhir’, ‘bahasan’, ‘kalimat awal’ ‘oleh karena itu’ pada kesimpulannya’, ‘anyway’, ‘all in all’, dimana ada hubungan refrensi dengan wacana. Ada juga kasus yang dipakai pada pronouns seperti pada kalimat 17, yang kita sebut sebagai wacana deiksis.
(17) I keep my car in the garage but my next-door neighbor keeps it in his drive
Menurut (C. Lyson 1999: 32). ‘it’ disebut lazinees pronoun, ini berhubungan dengan antesenden; tidak ada identitas refrensi. Pronoun disebut wacana deiksis yang merujuk pada potongan wacana, frasa kata benda akan diulang dengan kualifikasi tertentu (‘his car) atau ada beberapa tingkatan kata dalan bahasa Inggris, yang mempunyai fungsi wacana deiksis, yang berhubungan dengan topik wacana sebelumnya.
Deksis sosial ini berkaitan antara partisipan, dengan status topik wacana. Pertalian yang relevan dengan model deiksis ini termasuk hubungan antara pembicara alamat dan antara partisipan lainnya, pembicara dan objek pendegar dan lain sebagainya. Wacana ini dipakai tujuan wacana deiksis itu sendiri termasuk bentuk kata penunjuk, kesantunan pronoun (tu/vous), bentuk pertalian dan kesantunan pronoun, pada kenyataan alamat dan refrensi kesantunan pronoun juga dipakai, ini terlihat pada wacana yang lain untuk mengformulasi tingkatan wacana yang disusun, secara gramatik kita bisa lihat dalam berbagai bahasa.
Akhirnya, ada juga bentuk deiksis yang tidak bisa diandalkan pada pertalian tersebut tetapi lebih bersifat absolute, status non-hubungan dengan pembicara atau alamat, seperti “Her Royal Highness’. Beberapa ahli bahasa (Charles Fillmore, Stephen Levinson) menganalisis beberapa tipe deiksis sebagai sebuah contoh fenomena. Tetapi wacana deiksis sosial terlihat berbeda dengan ketiga kategori dasar pada person, tempat dan bentuk waktu. Secara gramatikal atau leksikal berbeda dalam konteks, tetapi secara konten keduanya tidak dapat diintrepretasi. Kemudian kita dapat menggunakan teori semantik formal untuk menganalisis deiksis tersebut, wacana deiksis sosial ini tentu saja diabaikan. Person, tempat dan deiksis waktu bisa digabungkan kedalam kebenaran kondisional-semantik, khususnya pada semantik dinamik seperti teori wacana representasi yang merujuk pada wacana refrensi.




2. PENGGUNAAN KATA GANTI NONDEIKSIS
Dalam ungkapan deiksis juga dikenal penggunaan non deiksis seperti dicontohkan dalam kalimat (23) sampai (28) berikut.
(23) You can never tell these days.
(24) There is this man I met in the cafe.
(25) Now, the next topic to discuss is presuposition.
(26) There you are.
(27) I was doing this and that.
(28) Their garage is opposite Honda’s. (vs. their garage is opposite).
Kata ganti juga digunakan secara non deiksis ketika kata ganti itu merupakan anafora dalam pengertian tata bahasa tradisional tentang kata. Dalam kalimat (29), pengacu itu sudah ada pada dalam teks awal daripada dalam konteks situasi. Dengan demikian, The boy mendahului dari anafora ‘he’.
(29) The boy fell off a tree and he was found by the gardener.
Sedangkan kalimat (17), kata ganti it digunakan meskipun acuannya adalah mobil yang dimiliki oleh tetangga, bukan mpbil yang dimiliki oleh pembicara. Maka, tidak ada identitas antara pendahulu dan anafor.
(17) I keep my car in the garage but my next door neighbour keeps it on his drive.
Kita menyebutnya penggunaan ‘it’ sebangai deiksis wacana.
Masalah hubungan anafora dengan kata ganti digunakan sebagai variabel juga muncul seperti pada kalimat (30) dimana ‘She’ mewakili variabel yang terikat dengan ungkapan bilangan every girl.
(30) Every girl thinks she should learn to drive.
Dalam kalimat (31), makna ‘it’ tidak bergantung pada ‘a donkey’ tetapi lebih khusus pada keledai yang dimiliki oleh petani.
(31) Every farmer who owns a donkey beats it.
Kata ganti yang awal (a donkey) merupakan variabel terikat dari ‘every farmer’, dan antara donkey dan kata ganti tidak terhubung secara sintaksis. Dengan kata lain tidak ada hubungan antara ‘a donkey’ dan ‘it’. Logika dari kalimat (31) adalah pada (31a)
(31a) VxVy ((farmer(x) & Donkey (y) & Owns (x,y)) à Beats (x,y))
Tetapi (31a) tidak sepenuhnya menterjemahkan kalimat (31). Tidak ada prosedur langsung yang dapat menterjemahkan kalimat (31) dan (31a).
Pada kalimat (32) tidak ada indikasi bagaimana menafsirkan cakupan dari penjelasan a farmer dan a donkey
(32) If a farmer owns a donkey. He is usually rich.
Jika kita membayangkan 99 petani miskin yang masing-masing memiliki satu keledai dan seorang petani dengan 200 keledai, maka perbedaan menjadi sangat nyata.
3. DEIKSIS DAN ACUAN
Mari kita bandingkan hal-hal semantik antara ungkapan deiksis dan acuan yang lain. Dari perspektif fungsi semantik bersyarat, kata ganti, dan demonstratif amat mirip dengan nama. Yaitu mengambil acuan, dan kalimat itu mengandung kebenaran jika predikatnya menunjukan kebenaran dari individu. Tetapi sebenarnya terdapat perbedaan yang esensial. Kata ganti dan demonstratif memiliki acuan variabel (veriable reference): kata ganti dan demonstratif tersebut mengambil acuan yang berbeda dari kesempatan penggunaan yang berbeda. Kalimat (33) kondisi kebenarannya sangat terlihat; tidak ada orang yang disebut Kasia Jaszczolt dan dia adalah seorang linguis.
(33) Kasia Jaszcozlt is a linguist.
Sekarang jika diungkapkan dalam kalimat (34) maka prosedur semantiknya akan terpecah meskipun maknanya sama
(34) I am a linguist.
Hal serupa juga terjadi pada kalimat (35)
(35) We are learning this now.
Batasan antara bergantung pada konteks dan tidak bergantung pada konteks tidak tegas karena memerlukan waktu yang khusus.
Persoalan utama dalam ungkapan deiksis adalah bahwa kalimat yang mengandung ‘I’ dapat mengungkapkan proposisi yang berbeda pada kesempatan penggunaan yang berbeda. Untuk mengatasi kesulitan ini dengan acuan dari ungkapan deiksis harus tetap. Jika acuan itu konstan, maka makna dari ungkapan deiksis akan tetap konstan dalam berbagai kalimat dan bentuk turunan.
(36) I like cheese and wine.
(37) I like cheese.
Berikutnya, perlakuan pada kata tunjuk dalam kalimat kompleks tidaklah semudah kata tunjuk dalam kalimat sederhana. Kita harus memutuskan, misalanya pada kalimat (38), apakah kata ‘that student’ harus dianalisis sebagai that sebagai ‘that’ sebagai kata penunjuk, atau penunjuk ‘that’ plus makna kata ‘student’.
(38) That student knows a lot about Tarski.
Terakhir, perbedaan jenis kelamin nampaknya juga tidak relevan dalam semantik, jika pembicara mengatakan kalimat (39), dengan menunjuk pada George Eliot yang tertera pada sampul buku, pembicara telah mengatakan sesuatu yang benar meskipun pengarangnya adalah seorang wanita, Mary Anne Evans.
(39) He also wrote Middlemarch.
Contoh (40) mengungkapkan pikiran sehingga kata ‘today’ harus mencerminkan pengertian dan juga acuan.
40) Today is fine.
Dalam kalimat (40) mengandung persoalan dalam acuannya. Sehingga dalam mencari acuan semisal kata today, yang juga diuajrkan day d, diartikan ‘jika dan hanya jika ada cara tertentu untuk mencari acuan kapan tepatnya hari tersebut. Penunjuk dalam pengertian berbeda mengungkapkan pengertian yang berbeda pula, dan hal ini beragam dalam berbagai situasi. Bahkan dalam masalah tenses, juga terdapat perbedaan tersebut. Kalimat (41) mungkin tidak benar ketika dikatakan di musim gugur.
(41) This tree is covered with green leaves.
Tetapi pengertian bukan hanya pikiran pribadi: kita juga harus dapat melacak objek ketika kalimat (40) dirubah menjadi kalimat (42) sehari kemudian.
(42) Yesterday was fine
Sehingga seseorang dapat berfikir dengan kondisi yang sama dalam kalimat (40) sehari setelahnya, meskipun ungkapan yang digunakan berbeda.
Dalam pemahaman seperti inilah, kehadiran sesuatu yang diacu menjadi teramat penting agar semantik dari ungkapan deiksis dapat terjelaskan, sekaligus sebagai bentuk ketergantungan pada konteks.

Referensi
Katarzyna M. Jaszczolt, Semantics and Pragmatics. 2002. London: Longman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar