Jumat, 19 November 2010

ANALISIS PUISI SUFISTIK JALALUDDIN RUMI
(SEBUAH PENDEKATAN METAFORA)

Makalah
Mata Kuliah : Pragmatik dan Semantik
Dosen: Prof. Dr. Jenny
Dr. Ratna





Oleh

Nanan Abdul Manan (7316090181)
PB.B

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
(UNJ)
2010
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nama lengkapnya Jalaluddin Rumi ialah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh (kini terletak di perbatasan Afganistan) dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di Konya (wilayah Turki, Asia). Beliau adalah sang maestro dalam syair. Tidak sekedar penyair, beliau juga sebagai ahli filsuf religius. Dengan nukilan goresan pena itu, sesungguhnya Rumi menyingkap dan mengungkap situasi kepenyairannya sendiri. Tepat sekali bila pembaca menebak-nebak, disamping terkenal sebagai penyair, ia memang seorang ulama besar (mullah).
Jalaluddin Rumi dibesarkan dalam keluarga dan masyarakat yang memberikan semangat keagamaan padanya. Ayahnya, Bahauddin Walad mendapat kedudukan tinggi di kalangan keagamaan di Khorasan, sebelum ia dengan tiba-tiba mengungsi ke Konya wilayah kekuasaan Turki Saljuq menjelang penyerbuan bangsa Mongol. Di Konya, Bahauddin mendapat bantuan lindungan dan bantuan raja serta penghargaan rakyat sebagai khotib dan guru agama.
Rumi sendiri, setelah menyelesaikan pendidikan bertahun-tahun di Aleppo dan Damsyik, pada saatnya pula mengajar dan menjadi khatib di Konya. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari tiga ribu kasidah (ode) dan ghazal (lirik). Bagi pembaca tanah air, buku kumpulan puisi Rumi yang sangat terkenal yakni Masnawi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.
Dengan karakteristik unik seorang penyair plus ahli tasawuf, Rumi telah menorehkan tinta sejarah bahwa dia merupakan satu-satunya penyair sufi yang sulit tertandingi oleh para penyair sebelum, semasa dan sesudahnya. Dengan realita demikian, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap beberapa lirik syairnya yang memiliki sayap makna, penuh kharismatik sekaligus cahaya magis bagi si pembaca karena begitu memesona.
Penulis tertarik untuk melakukan kajian-meskipun sederhana-terhadap puisi-puisi Rumi. Adapun sentral kajian yang penulis lakukan adalah terkait dengan puisi-puisi yang mengandung metafora. Sehingga, dari beberapa puisi yang ditemukan, penulis hanya menemukan beberapa ungkapan saja yang mengandung metafora dan dijadikan bahsan pada tulisan ini. Semoga bermanfaat.

B. Landasan Teori
Bahasa merupakan ungkapan pikiran, ungkapan perasaan. Ia akan menjadi penghias dalam komunikasi manusia sehari-hari. Ungkapan yang akan lama membekas adalah ungkapan yang penuh pesona. Pesona itu hadir karena adanya rangkaian kata yang dipadu dengan hiasan makna si pengujarnya. Metafora merupakan salah satu piranti bahasa yang dapat menjadikan ungkapan itu memesona.
Metafora secara etimologi berasal dari bahasa Latin metaphora, dalam bahasa Yunani metafora memiliki kesepadanan dengan transference. Hal ini dilandaskan pada metaphor dari metapherein yang berarti to transfer : meta-, diluar kenyataan- + pherein, membawa. Dengan definisi tersebut, maka metafora dapat dipahami sebagai sebuah ungkapan yang diluar makna literal dan membawa makna-makna baru yang dibangun oleh si pengujar dan akan memberikan stimulasi terhadap variasi makna yang dibangun oleh si pendengar pula.
Secara tradisional, terdapat dua pandangan tentang peran metafora dalam bahasa, pertama, classical view atau referential view (Jaszczolt 2002: 346). Classical view atau referential view dipahami bahwa metafora yang digunakan oleh zaman dahulu, dalam hal ini diawali oleh tulisan-tulisan Aristoteles-filsuf Yunani-yang sering menggunakan metafor-metafor sebagai pengungkapan suatu hal tidak secara langsung melalui pendekatan literal kalimat tersebut
Searle (1979), seperti dikutip oleh Jaszczolt (2002: 346), menjelaskan pandangan tradisional tentang metafora dalam dua pandangan, yaitu: pertama, comparison view, berpendapat bahwa ungkapan metaforis membandingkan persamaan atau kemiripan antarobjek yang ada di dalamnya; dan kedua, interaction view, beranggapan bahwa terdapat oposisi verbal (interaction) antara makna ungkapan yang digunakan secara metaforis dengan maknanya secara literal.
Akan tetapi Searle memiliki pendapat lain terkait metafora. Ia mendefinisikan bahwa metafora sebagai makna pengujar (Jaszczolt, 2002: 348). Dilanjutkan olehnya bahwa makna metaforis bukanlah makna kalimat: makna kalimat juga tidak dibagi ke dalam makna literal dan makna metaforis, melainkan makna kalimat adalah makna literal, dan makna pembicara adalah makna metaforis. Sehingga, dengan demikian, si pengujar dapat memberikan banyak makna dari ujarannya sesuai dengan keinginannya. Secara garis besar bahwa makna literal berada pada makna kalimat itu sendiri, sementara makna metafora berada pada makna ujaran si pengujar. Untuk memahami lebih lanjut, salah satu contoh dapat kita teliti seperti diberikan berikut.
Sally is a dragon (Jaszczolt, 2002: 347),
Pada kalimat di atas, Sally adalah seekor naga bukanlah makna sesungguhnya seperti kita menemui Sally. Naga merupakan metafora (perbandingan) bagi sally yang dilihat dari sudut sifatnya yang keras misalnya, menakutkan atau menjijikkan layaknya naga. Si pengujar sesungguhnya ingin menyampaikan semua karkter-karakter Sally yang sesuai dengan karakter yang dipahami sebagai naga. Pengujar tidak merasakan rasa bahasa yang menarik bila hanya mengungkapkan karkteristik-karakteristik sally secara literal, akan tetapi dengan penggunaan metafor naga, sebuah ungkapan akan lebih berasa dan mencakup banyak pesan si pengujar dengan ragam tujuan maknanya.
Namun, kita juga harus membedakan antara metafora dan simili. Perhatikan pada contoh berikut;
Mary is like a fish (Jaszczolt, 2002: 347),
Pada contoh ini, kita menemukan kata like sebagai konjungsi pada penjelasan Mary dan a fish. Berbeda dengan ungkapan pertama, Sally is a dragon, kita tidak menemukan konjungsi like maupun as. Inilah yang dapat membedakan antara metafora dan simili. Simili dan metafora memiliki kesamaan dari sudut perbandingan antara kata benda satu dengan kata benda lainnya. Akan tetapi simili menggunakan konjungsi (like, as atau seperti, ibarat, bagaikan) sementara metafora tanpa menggunakan konjungsi untuk memberikan perbandingan tersebut. Metafora maupun simili sama-sama merupakan gaya bahasa yang digunakan sebagai alat untuk menghadirkan meaningful utterances.



II. BAHASAN

Ulasan Puisi
Penulis melakukan pemilihan terhadap puisi-puisi Rumi yang mengandung metafora. Berikut puisi-puisi karya Rumi dari berbagai judul dan buku. Dapat kita lihat pada puisi dari buku Masnawi I halaman 599-607.
The Unseen Power
We are the flute, and the music in us is from Thee;
we are the mountain and the echo in us is from Thee.
Pada penggalan puisi di atas, terlihat ada unsur metafora. Kalimat we are the flute-kami adalah seruling merupakan makna metafora dari makhluk yang ada pada genggaman Tuhan. The flute atau seruling tidaklah akan memiliki makna apa-apa tanpa ada yang meniupkan. Penjelasan berikutnya adalah and the music in us is fromThee-dan musik nya adalah dari Engkau. Engkau di sini memiliki posisi sebagai Tuhan yang mampu meniupkan (menggerakkan, mengatur, menggenggam) manusia. Dan muncullah musik atau irama (kekuatan) yang diberikan dariNYA.
Kalimat kedua menggambarkan we are the mountain and the echo in us is from Thee- kami adalah gunung dan gema nya adalah dari Engkau. Kalimat ini menjelaskan tentang makhluk yang diciptakan dan Tuhan sebagai penciptanya. Gunung di sini mensiratkan bahwa manusia sebatas diciptakan (gunung), berada di muka bumi. Ia tidak akan meletus (gunung), menyemburkan lahar, maupun kejadian lainnya tanpa ada kekuasaanNya (gema Engkau/perintah Tuhan). Metafora kedua pada penggalan kalimat di sini adalah manusia dan gunung. Ada titik kesamaan antara we are the flute dan we are the mountain terkait metaforanya itu. We are the flute menjelaskan tentang manusia yang hanya memiliki eksistensi (thr flute), sementara yang memberikan esensi (the music) adalah Tuhannya. Begitu pula pada we are the mountain, di sini dijelaskan bahwa makhluk hanya diciptakan, ditempatkan, diatur (gunung berada) dan yang menjadikan gunung (manusia) berubah dengan meletus atau mengeluarkan laharnya tiada lain oleh Thee (kekuatan Tuhan).
Mari kita lihat contoh metafora berikutnya pada penggalan puisi dalam satu judul yang sama dengan yang di atas tadi.
We are pieces of chess engaged in victory and defeat:
our victory and defeat is from thee, O thou whose qualities are comely!
Who are we, O Thou soul of our souls,
that we should remain in being beside thee?
We and our existences are really non-existence;
thou art the absolute Being which manifests the perishable.
Pada kalimat We are pieces of chess engaged in victory and defeat (kita adalah bagian dari pemeran dalam permainan catur yang diatur untuk menang dan kalah), metafora muncul pada perbandingan we dan pieces of chess. Rumi membandingkan antara manusia dan pemeran dalam catur. Dalam permainan catur terdiri dari satu raja, satu mahapatih, dua peluncur, dua kuda, dua bom dan delapan budak. Penyair melakukan pembandingan antara manusia dengan anak catur dilihat dari sisi karakter anak catur yang dapat diatur sedemikian rupa, menggunakan strategi apapun dan dengan cara permainan apapun bergantung pada yang memainkannya. Dalam setiap permainan, tentu ada dua sisi yang senantiasa tidak akan terpisahkan, yakni menang dan kalah (victory and defeat).
Sebuah tanda penyerahan diri sebagai manusia. Dengan segala kekuarangannya, ia diumpamakan sebagai pieces of chess, digerakkan (engaged) dan akan ditentukan menang dan kalahnya (victory and defeat) dalam sebuah pertandingan (perjalanan hidup yang penuh tantangan, cobaan, godaan, ujian). Sebagai bagian dari pemeran dalam permainan catur (manusia) akan senantiasa diatur oleh orang yang memainkannya (Tuhan). Penyair dalam hal ini hendak menyampaikan pesan bahwa manusia sebagai kesatuan yang utuh sebagai makhluk yang dikendalikan oleh Sang Maha Kuasa (Tuhan).
Mari kita lihat contoh metafora berikutnya pada penggalan puisi dalam satu judul yang sama dengan yang di atas tadi.
We all are lions, but lions on a banner:
because of the wind they are rushing onward from moment to moment.
Their onward rush is visible, and the wind is unseen:
may that which is unseen not fail from us!
Our wind whereby we are moved and our being are of thy gift;
our whole existence is from thy bringing into being.

Masnavi Book I, 599-607
Pada kalimat We all are lions, but lions on a banner (kita semua adalah singa-singa, tapi singa dalam sebuah pataka/bendera), metafora muncul antara we (kita) dibandingkan dengan lions (singa-singa). Manusia dibandingkan dengan singa karena memiliki karakter yang sama dalam hal tertentu, yakni berani. Keberanian ini ditunjukkan pada bait berikutnya-because of the wind they are rushing onward from moment to moment (karena angin, mereka berperang dari waktu-ke waktu). Lambang keberanian singa yang sama dimiliki oleh manusia adalah keberanian berperang. Akan tetapi, penyairpun tidak melepas makna pada kalimat ini tanpa suatu ikatan makna dari kalimat-kalimat sebelumnya. Sebagai pengikat makna adalah but lions on a banner. Sehebat apapun singa menyerang binatang-binatang lain, sehebat apapun manusia mampu berperang atau memerangi suku-suku lain namun mereka tetap ada dalam kekuasaan Tuhan mereka. Disinilah koherensi makna yang sempurna pada syair ini antara kalimat pertama dan kalimat-kalimat berikutnya. Posisi manusia sebagai makhluk yang berada pada kekuasaan Tuhan tidak terelakkan dengan kehebatan, kegagahan yang dimiliki singa (manusia).
Begitupun pada frase because of the wind (dalam rangkaian because of the wind they are rushing onward from moment to moment). Penyair Rumi menjelaskan bahwa metafora Tuhan dengan the Wind. Karakter yang dimiliki oleh the wind adalah mampu meniup, mampu menggerakkan. Posisi the wind pada metafora ini menjadi sebuah penyebab utama dalam menentukan they are rushing onward from moment to moment. They di sini mengacu kepada lions atau manusia yang dapat dikendalikan oleh angin (Tuhan). Segagah apapun singa (lions), mereka berada dalam pataka/bendera (banner) Tuhannya. Sesuai dengan sifat lemahnya manusia di depan Tuhannya, pataka/bendera (banner) pun akan mudah ditiup dan digerakkan oleh the wind (angin). Manusia menjadi metafora dalam a banner dan Tuhan digambarkan oleh sang Penyair dengan the wind.
Lengkaplah sebuah metafor antara Tuhan dan manusia. Cerminan muncul sebagai satu yang memiliki kekuasaan Maha yaitu Tuhan dan di lain pihak sebagai sesuatu yang ditentukan, diatur dan dimainkan yaitu Manusia. Secara keseluruhan, puisi-puisi karya Rumi berhaluan religius. Metafora yang muncul pada bait-bait puisinya senantiasa berada pada ranah Tuhan Allah dan penyerahan diri manusia padaNYA.
No Kata/frase asli Makna metafora
1 We are the flute, Flute-seruling, sebagai penjelas kepada manusia. Flute ada dan memiliki potensi untuk mengeluarkan bunyi, akan tetapi bunyi itu atau musik itu muncul dariNya
2 the music in us is from Thee; The music adalah kekuatan Tuhan yang merupakan pencipta suara dari the flute
3 we are the mountain The mountain atau gunung adalah sebuah metaphor pada manusia karena karakternya yang tunduk, ajeg, dan senantiasa patuh kepada langit.
4 the echo in us is from Thee. The echo adalah metaphor Tuhan yang mampu menggoyahkan gunung (manusia) menjadi meletus, lahar tersembur, dan lain sebagainya.
5 We all are lions, but lions on a banner: Lions adalah metaphor manusia. Manusia dapat hidup, menjadi pemberani, gagah sama seperti lions tapi mereka berada pada pataka atau bendera yang hanya sebatas gambar belaka.
6 because of the wind they are rushing onward from moment to moment. The wind adalah kekuatan Sang Maha Dahsyat, yaitu Tuhan yang mampu meniupkan pataka dengan mudah

















III. KESIMPULAN


Dari penjelsan sederhana di atas, sebagian bahkan secara keseluruhan puisi-puisi yang dihasilkan oleh Jalaluddin Rumi adalah seputar masalah religius. Rumi, dengan gaya bahasa memesona dan tak pernah habis kata-katanya, senantiasa melukiskan kata-kata dengan tinta emasnya tentang cinta kasih, penyerahan diri, dan ketidakberdayaan makhluk kepada sang Kholiq.
Pada puisi-puisi yang penulis pilih merupakan puisi-puisi yang mengandung metafora. Rumi sangat lincah memainkan kata-kata hingga terkadang metafor itu muncul tenggelam dan tidak mudah ditelusuri bila tidak dibaca secara komprehensip. Metafora yang digunakan oleh rumi tidak semudah kita telusuri karena kandungan metaforanya dapat bersifat global dalam bentuk wacana atau kesulitan juga ditemukan pada transliterasi dari bahasa asli ke bahasa Inggris bahkan ke Bahasa Indonesia. Sehingga, penulis di sini mengambil sumber yang berbahasa Inggris sebagai upaya meminimalisir deviasi makna.
Secara garis besar, dapat ditemukan beberapa karakter dari hasil penelusuran sederhana pada puisi-puisi Rumi adalah seputar penyerahan diri manusia pada Tuhan. Penyerahan diri manusia kepada Tuhan semata-mata kecintaan makhluk kepada Khaliqnya, ketidakberdayaan manusia di depan Tuhannya semata-mata kesadaran bahwa eksistensi manusia berada atas dasar esensi Tuhannya semata. Sehingga, penyerahan diri, ketidakberdayaan, merupakan sebuah kenikmatan jiwa yang sulit terukur dengan hitungan realitas karena ekstasi yang menyengat jiwa dan ketenangan hati yang tak berkesudahan.




Referensi

Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics And Pragmatics-Meaning in language and discourse, London. Pearson education Press
Rumi's Divan of Shems of Tabriz Selected Odes (Element Classics of World Spirituality) Mevlana Jalaluddin Rumi, et al Published 1997
The Sufi Path of Love The Spiritual Teachings of Rumi William C. Chittick (Translator) Published 1983

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar